Beranda

Minggu, 01 Januari 2012

Tugas Bahasa Indonesia (4)

Tulisan Ilmiah Populer

Perancang busana Adesagi Kierana (34), meninggal dunia, Minggu (1/1/2012), pukul 17.00 di Bandung, Jawa Barat. Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), organisasi yang menaungi Adesagi dua tahun terakhir, memberikan konfirmasi resmi mengenai wafatnya perancang muda bertalenta Indonesia ini.
Shinta Setyaningsih, dari Studio One-Public Relations IPMI mengatakan jenazah akan disemayamkan di rumah duka Jalan Kaca Piring desa Wanasari, Cibitung, Bekasi. "Malam ini, pihak keluarga sedang menjemput jenazah di Bandung, dan akan dibawa ke rumah duka," jelas Shinta kepada Kompas.com melalui hubungan telepon.
Shinta melanjutkan, kabar meninggalnya Adesagi mengejutkan berbagai pihak. "Kami belum bisa menjawab banyak mengenai hal ini karena masih terkejut juga berduka, karena belum genap sebulan lalu ibu Adesagi meninggal dunia," jelasnya.
Ketika ditanyakan apakah keberadaan Adesagi di Bandung dalam rangka liburan akhir tahun, Shinta menjawab singkat, "Sepertinya sedang liburan."
Sebelumnya, kabar meninggalnya Adesagi beredar melalui dunia maya. Rekan seprofesi juga kerabat dekat desainer yang awal Desember lalu memamerkan instalasi fashion di PMR Cube Jakarta ini, menuliskan ungkapan duka cita melalui Twitter dan Blackberry Message.
Kepada Kompas.com, Era Soekamto desainer yang juga menjabat sebagai Public Relations IPMI membenarkan kabar ini. "Saya sendiri mendapat kabar dari ibu Sjamsidar Isa selaku ketua IPMI, yang juga mendapatkan kabar dari Susie Hedijanto. Ade sempat menjadi asisten desainer Susi Hedijanto sebelum menjadi desainer dengan namanya sendiri," aku Era.
Era dalam status BBM-nya menuliskan "Telah berpulang sahabat tersayang Adesagi Kierana". Baginya, Ade merupakan sosok desainer muda berbakat, memiliki kepribadian yang baik, dan pintar. "Saya tak sempat melihat pameran fashion Ade yang terakhir," katanya.
Adesagi sendiri merupakan anggota baru di IPMI, menjadi bagian dari organisasi profesi perancang busana bersama Era dan sejumlah nama besar lainnya seperti Sebastian Gunawan. Adesagi kelahiran 19 September 1977 bergabung bersama IPMI pada Oktober 2010, tepat saat mengikuti pagelaran busana Trend Show IPMI 2011.

Sumber Kompas,
Goresan Hijau

1. Jelaskan dengan contoh “ menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar”. ?
Contoh menggunakan Bahasa Indonesia secara baik dan benar
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar” dapat diartikan pemakaian ragam bahasa yang serasi dengan sasarannya dan di samping itu mengikuti kaidah bahasa yang betul. Ungkapan “bahasa Indonesia yang baik dan benar” mengacu ke ragam bahasa yang sekaligus memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran. Bahasa yang diucapkan bahasa yang baku.
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.
Misalkan dalam pertanyaan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang baku Contoh :
  • Apakah kamu ingin menyapu rumah bagian belakang ?
  • Apa yang kamu lakukan tadi?
  • Misalkan ketika dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang siswa
    • Pak guru : Rino apakah kamu sudah mengerjakan PR?
    • Rino : sudah saya kerjakan pak.
    • Pak guru : baiklah kalau begitu, segera dikumpulkan.
    • Rino : Terima kasih Pak

2 Berikanlah contoh bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi ?
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Contohnya :
Misalnya berupa :
-          Alat-alat itu digunakan untuk berkomunikasi misalnya gerak badaniah, alat bunyi-bunyian, kentongan, lukisan, gambar, dsb).
Contohnya :
-          bunyi tong-tong memberi tanda bahaya
-          adanya asap menunjukkan bahaya kebakaran
-          alarm untuk tanda segera berkumpul
                                                   
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

Tugas Bahasa Indonesia (1)





1.
Mengapa Bahasa Melayu diangkat menjadi Bahasa Indonesia..?
Sejarah tumbuh dan berkembangnya Bahasa Indonesia tidak lepas dari Bahasa Melayu. Dimana Bahasa melayu sejak dahulu telah digunakan sebagai bahasa perantara (lingua franca) atau bahasa pergaulan. Bahasa melayu tidak hanya digunakan di Kepulauan Nusantara, tetapi juga digunakan hampir diseluruh Asia Tenggara.
Hal ini diperkuat dengan ditemukannya Prasasti-prasasti kuno dari kerjaan di indonesia yang ditulis dengan menggunakan Bahasa Melayu. Dan saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai :
  1. Bahasa Kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisi aturan-aturan hidup dan satra
  2. Bahasa Perhubungan (Lingua Franca) antar suku di Indonesia
  3. Bahasa Perdagangan baik bagi suku yang ada di indonesia mapupun pedagang yang berasal dari luar indonesia.
  4. Bahasa resmi kerajaan.
Ada empat faktor yang menyebabkan bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia yaitu :
  1. Bahasa melayu sudah merupakan lingua franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdangangan.
  2. Sistem bahasa Melayu sederhana, mudah dielajari karena dalam bahasa melayu tidak dikenal tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).
  3. Suku jawa, suku sunda dan suku suku yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional
  4. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas

2. Jelaskan perbedaan antara ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan, berikanlah contohnya ?
Ragam Lisan dan Ragam Tulis
Tidak dapat kita pungkiri, bahasa Indonesia ragam lisan sangat berbeda dengan bahasa Indonesia ragam tulis. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ragam tulis adalah pengalihan ragam lisan ke dalam ragam tulis (huruf). Pendapat ini tidak dapat dibenarkan seratus persen sebab tidak semua ragam lisan dapat dituliskan; sebaliknya, tidak semua ragam tulis dapat dilisankan. Kaidah yang berlaku bagi ragam lisan belum tentu berlaku bagi ragam tulis.
Kedua ragam itu berbeda, perbedaannya adalah sebagai berikut:

1.     Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman berbicara yang berada di depan pembicara, sedangkan ragam tulis tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan.

2.      Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu dinyatakan. Unsur-unsur itu kadang-kadang dapat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mimik, pandangan, anggukan, atau intonasi.

Ragam tulis perlu lebih terang dan lebih lengkap daripada ragam lisan. Fungsi-fungsi gramatikal harus nyata karena ragam tulis tidak mengharuskan orang kedua berada di depan pembicara. Kelengkapan ragam tulis menghendaki agar orang yang “diajak bicara” mengerti isi tulisan itu. Contoh ragam tulis ialah tulisan-tulisan dalam buku, majalah, dan surat kabar.

3.     Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah, hanya akan berarti dan berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi susastra belum tentu dapat dimengerti oleh orang yang berada di luar ruang itu. Ragam tulis tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang, dan waktu.

4.     Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya dan panjang pendeknya suara, sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca, huruf besar, dan huruf miring.

Berikut ini dapat kita bandingkan wujud bahasa Indonesia ragam lisan dan ragam tulis. Perbandingan ini didasarkan atas perbedaan penggunaan bentuk kata, kosakata, dan struktur kalimat.
a. Ragam Lisan
1)      Penggunaan Bentuk Kata             
a). Kendaraan yang ditumpanginya nabrak pohon mahoni.
b). Bila tak sanggup, tak perlu lanjutkan pekerjaan itu.

2)      Penggunaan Kosakata
a). Saya sudah kasih tahu mereka tentang hal itu.
b). Mereka lagi bikin denah buat pameran entar.

3)      Penggunaan Struktur Kalimat
a)      Rencana ini saya sudah sampaikan kepada Direktur.

b. Ragam Tulis
1.      Penggunaan Bentuk Kata
1)      Kendaraan yang ditumpanginya menabrak pohon mahoni.
2)      Apabila tidak sanggup, engkau tidak perlu melanjutkan pekerjaan itu.

2.      Penggunaan Kosakata
1)      Saya sudah memberi tahu mereka tentang hal itu .
2)      Mereka sedang membuat denah untuk pameran nanti.

3.      Penggunaan Struktur Kalimat
1)      Rencana ini sudah saya sampaikan kepada Direktur.

Ragam Baku dan Tidak Baku
Pada dasarnya, ragam tulis dan ragam lisan terdiri pula atas ragam baku dan ragam tidak baku.
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
Ragam baku itu mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

1.      Kemantapan Dinamis
Mantap artinya sesuai dengan kaidah bahasa. Kalau kita berpegang pada sifat mantap, kata pengrajin tidak dapat kita terima. Bentuk-bentuk lepas tangan, lepas pantai, dan lepas landas merupakan contoh kemantapan kaidah bahasa baku.

2.      Cendekia
Ragam baku bersifat cendekia karena ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Perwujudan ragam baku ini adalah orang-orang yang terpelajar. Di samping itu, ragam baku dapat dengan tepat memberikan gambaran apa yang ada dalam otak pembicara atau penulis.

3.      Seragam
Ragam baku bersifat seragam, pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa. Dengan kata lain, pembakuan bahasa adalah pencarian titik-titik keseragaman

Lukaku

Berat yang terasa...langkahku tak semudah dulu lg..
mencoba melewatinya....tak bisa bernapas, tak bisa melihat indahnya daun yg begitu hijau dan menenangkan lukaku..

hari demi hari terlewati dgn hiasan wrn yg berbeda....hijauku hilang....rindu akan hijauku...wrnku
berdiri layaknya seorng prajurit yang tegar dan siap untuk berperang....
dgn hembusan angin.....hanya terpaku...hanya melihat dari kjauhan

tapi lukaku.
yang terasa hanya pedih...mataku tak kunjung hentiny berduka....

hijauku tak tampak..berubah wrn...
menanti sampai kapan hijauku akan kembali...dgn wrn yg lebih segar dan jauh menenangkan..
hijauku yang memperindah wrn disekitarny...memberikan hembusan angin menyejukkan...
hijauku yang menenduhkan.....

tapi lukaku
tersadarkan semakin membesar...lukaku..

Me,
Goresan Hijau